Puisi-puisi yang tercecer dalam sepenggal perjalanan ...Ku harap kau suka membacanya...Kau boleh mengutipnya....Tapi kuharap, kau tak menjualnya atas namamu...Salam cinta dariku untukmu
Tak Ada Hal
Seperti Itu
Ketika
menyusuri pematang sawah bergandengan,
memandang bulir-bulir padi menguning,
aku bertanya:
Kalau panen tidak sebagus ini, akankah kau menetap bersamaku?
Tentu
saja, jawabmu sumringah, lalu menggenggam jemariku erat.
Aku
akan selalu datang, menyambut suka dan menepis duka bersamamu.
Aku
tersenyum, kupandang ke dalam bola matamu yang selalu menggelinding jauh
menghindar,
ingin kutahu apa isi hatimu.
Dalam
hati aku tahu tak ada hal seperti itu.
Pernah
kuungkapkan risau seperti remaja hijau,
Kau
mencegahku, katamu tak baik berkata-kata yang tak aku inginkan,
Aku
tersenyum, setengah hati mengiyakan,
Aku
tahu tak ada hal seperti itu.
Musim
berlalu, burung pipit telah bersarang jauh, sawah mengerring, tanah meretak,
Tidak
ada lagi sisa-sisa butir gabah.
Kau
masih duduk di sampingku memandang langit hampa.
Senyummu
tak lagi meriah, jemarimu mulai malas membelai,
Kata-katamu
menghilang sayup terhempas angin kemarau,
Tak
ada lagi canda.
Suatu
senja yang gersang, kau bilang akan bepergian jauh,
Mungkin
kau akan jarang datang menjengukku,
Bukannya
hatimu telah berubah, tapi tuntutan tugas jua
Aku
mengangguk, apa yang kutakutkan telah terjadi, selalu begitu,
Burung
pipit bersarang jauh ketika padi tak lagi bernas.
Setelah
sekian tahun, sekian kali panen bersama,
Kini
aku tunduk bersama padi-padi yang kembali menguning,
Bukan
sekali dua aku harus hadapi kesunyian,
Seandainya
aku dapat menukar butir-butir gabah dengan cinta, tak kan kulakukan
Aku
tahu tak ada hal seperti itu.
»