Entah bagaimana dan itulah sulitnya menjelaskan pera dan perangai para tokoh fiksi ciptaan aku, tahu-tahu Malaka telah mereka jadikan salah-satu setting penting di dalam rangkaian cerita. Jadi sebelum tokoh utamaku, Erika dan Julian bepergian ke sana aku mendahului mereka lewat rute yang sama —via Singapore. Aku nggak mau nantinya mereka komplain, mengatakan aku sendiri nggak pernah ke Malaka dan nggak kompoten menceritakan kejadian yang mereka alami di sana.
Maka akupun naik ke atas bis antar negara, di terminal Kallang Bahru Singapore, menuju Malaka. Menyeberangi teluk menuju semenanjung Malaysia. Aku mesti berterima kasih kepada CheChe Uy dengan kisah perjalanannya yang dipublikasikan di Port 80 Guide To Malacca. http://www.travelblog.org/Asia/Malaysia/Melaka/blog-26142.html yang telah dengan detilnya menuliskan bagaimana caranya dan di mana serta apa dan bilamana. Meskipun mencari informasi yang sama melalui website nggak terlalu sulit, toh bisa juga menghemat waktuku. Dengan mengandalkan info Che-che Uy itu, aku bisa nge-range perjalanan ini last minute cepat dan lancar pula.
Informasi yang diberikan cewe ini hampir akurat makanya akupun dapat mengikuti itinerarynya hampir persis sama. Naik bis perusahaan yang sama, jam yang sama, dan di Malaka walaupun aku nginap di hotel yang berbeda, tapi masih juga terletak di jalan yang sama. Mengunjungi objek wisata yang sama.
Bedanya mungkin aku mengharuskan diri berkunjung ke Bukit Cina, dan dia nggak. Aku menghabiskan waktu berjam-jam di Cheng Ho Cultural Museum dan dia nggak. Selebihnya termasuk makan nasi ayam Hainan eh...sama. Aku lebih untung sedikit, bisa cakap Mandarin sehingga nggak bingung waktu memesan makanan. Saking samanya, aku jadi ngerasa akan percuma menulis panjang-lebar tentang perjalananku. So...kalau anda mau tahu lebih banyak silakan klik link di atas ya...
Cerita perjalanan aku nantinya juga akan muncul lewat penuturan Erika dan Julian (kedua tokoh novel baruku).
Yang agak lucu untuk diceritain mungkin pengalaman kecele. Kami tiba di Malaka hari Minggu siang. Setelah lelah berputar-putar di Town Hall, dan ketika malam menjelang, tibalah kami di Jonker Walk yang telah kami kunjungi siangnya. Di malam hari, jalanan dikosongkan dari kendaraan yang berlalu-lalang dan dijadikan tempat jualan aneka makanan. Wah...banyaknya jenis makanan dan bervariasi dari satu stand dengan stand lainnya, namun sama-sama nafsuin, kami jadinya bingung harus memilih yang mana. Akhirnya kami makan mie laksa yang enak banget. Sambil menyayangkan perut udah nggak bisa muat makanan lain kami pun menyusun rencana akan kembali keesokan malamnya, nggak buat makan makanan utama, tapi jajan ini dan itu. Jadi bisa ngicip ini itu, nggak sekali makan kenyang seperti malam ini.
Maka keesokannya, Senin, kami makan secara wajar (nggak kenyang-kenyang amat) pada waktu makan siang. Menjelang malam kami balik ke hotel, mandi dan istirahat ngumpulin energi untuk jalan dan makan di Jonker Walk!
Ketika cahaya siang digantikan penerangan lampu, kamipun berangkat ke Jonker Walk dengan membawa perut yang udah dikosongin. Tapi ya ampun! Dari ujung jalan Jonker Walk, kami menemukan jalanan yang malam sebelumnya dipenuhi food stalls tersebut sepi seperti kuburan! Kecewa, kecele, dan kelaparan! Ternyata Jonker Walk hanya buka Jumat, Sabtu dan Minggu malam saja. Ya...waalah.