Jika saya teliti catatan sejarah menunjukkan tidak satu kali dua kali simbolisasi Tuhan suatu agama diserang (baca: coba dihubungkan dengan kebenaran faktual). Tetapi pihak otoritas selalu mencoba menutup mata dan telinga mereka. Ketakutan kalau secuil fakta akan menggoyahkan iman umat.
Kemarin (Kamis, 5 April 2007) saya membaca di surat kabar KOMPAS yang memuat tulisan Ioanes Rakhmat “Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus”. Untuk membaca tulisan ini secara lengkap anda dapat menemukannya di Kompas online kalau anda kebetulan tidak berlangganan Kompas cetak. Namun jika anda tidak ingin melakukan kedua-duanya, akan saya ringkaskan beberapa bagian penting dari artikel ini.
Makam keluarga Yesus di Talpiot, sebelah selatan Kota Lama Jerusalem, digali dalam kurun waktu 1 – 11 April 1980 oleh para arkeolog di bawah pengawasan Otoritas Kepurbakalaan Israel (OKI) menemukan 10 osuarium (peti tulang terbuat dari batu gamping) berusia tua dari kurun waktu pra-tahun 70 Masehi, akhir perang Yahudi I melawan Romawi. Sejak penemuaan itu tidak ada penilitian lebih lanjut dst dst dst.
Tulisan ini sungguh sangat menarik hati saya, dan jika waktu mengijinkan suatu saat nanti akan saya baca semua hal yang berhubungan dengan penemuaan ini. Namun untuk saat ini, sebagai bagian dari perenungan di Pekan Suci ini, yang sangat menarik adalah penutup artikel ini.
Ioanes Rakhmat, seorang dosen Kajian Perjanjian Baru di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta menulis: Jika sisa-sisa jasad Yesus memang ada di bumi, maka kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga tidak bisa lagi dipahami sebagai kejadian-kejadian sejarah obyektif, melainkan sebagai metafora. Para penulis Perjanjian Baru sendiri pasti memahami keduanya sebagai metafora; jika tidak demikian, mereka adalah orang-orang yang sudah tidak lagi memiliki kemampuan untuk membedakan mana realitas dan mana fantasi dan delusi. Dalam metafora sebuah sebuah kejadian hanya ada di dalam pengalaman subyektif, bukan dalam realitas obyektif. Yesus bangkit, ya, tetapi bangkit di dalam memori dan pengalaman hidup dihadiri dan dibimbing oleh Rohnya. Yesus telah naik ke surga, ya; dalam arti Ia telah diangkat dalam roh untuk berada di sisi Allah di kawasan rohani surgawi. Kebangkitan dan kenaikan tidak harus membuat jasad Yesus lenyap dari makamnya. Untuk keduanya terjadi yang dibutuhkan adalah “tubuh rohani” bukan tubuh jasmani protoplasmik.
Seandainya para otoritas agama memiliki pandangan dalam dan luas, tentunya penemuan arkeologi penting di Talpiot tidak akan menghilang selama ini. Namun itulah, agama memerlukan simbol-simbol untuk mengokohkan kedudukan mereka. Kitab Suci dapat dinamakan Kitab Suci jika ia dapat dipercayai sebagai Sabda langsung dari Tuhan, suara Tuhan, perintah Tuhan dan lambang cinta Tuhan kepada umat manusia. Karena ia datangnya dari Tuhan maka isinya tidak boleh dipertanyakan kebenarannya oleh manusia.
Selama 17 tahun saya telah menarik sebuah garis tebal antara hal-hal yang dapat dianalisa dengan logika dengan dogmatis agama. Agama dan ilmu pengetahuan adalah 2 konteks yang berbeda. Entah dari mana atau dari siapa saya belajar untuk menyakini hal ini. Jika ditantang atau jika menghadapi keraguan teman atau kerabat saya selalu siap dengan nasihat: “Pakailah kepalamu untuk berpikir, dan pakailah hatimu untuk beriman.”
Saya juga tidak merasa malu mengakui bahwa saya pertama kali tahu tentang Talpiot dari tulisan Ioanes Rakhmat ini, maklumlah, saya bukan ahli teologi, bukan ahli agama, bukan pula cendekia sejarah. Saya hanya seorang umat yang mencoba untuk taat. Namun tulisan ini menggugah keinginan saya untuk merenungkan beberapa hal dalam Pekan Suci ini. Baru Jumat kemarin saya memperingati peristiwa penyaliban Yesus. Malam Minggu sesudahnya saya merayakan kebangkitanNya yang mulia. Dan hingga hari Pantekosta saya akan mendengar atau membaca bagaimana Injil memberitakan Yesus yang telah bangkit jiwa dan badan mendatangi murid-muridNya, makan bersama meraka, membiarkan Thomas mencucukkan jarinya pada bekas-bekas paku di telapak tanganNya dan lambungNya. Pada puncaknya saya akan mendengar atau membaca dari Injil bagaimana murid-muridNya menyaksikan Yesus terangkat ke surga. Semua ayat-ayat yang dibaca berusaha menyakinkan bahwa Yesus bangkit roh dan badan, karena itu Ia perlu makan, dan Thomas dapat mendeteksi kehadiranNya dengan indera perabanya.
Untuk pertama kalinya, saya tergoda untuk bertanya apakah detil Injil tentang kebangkitan Yesus tidak dimanipulir untuk melindungi kepentingan kelompok pengikut Yesus pada masa itu? Mungkin untuk mencegah lunturnya semangat para pengikut yang sedang kecewa karena: Yesus ternyata tidak bersedia mendaulat diriNya sebagai raja Yahudi yang akan membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan Romawi? KematianNya akan menyebabkan orang-orang yang pernah tersangkut-paut dengan Yesus akan dikejar-kejar untuk dibunuh, karena itu semangat mereka harus dikobarkan dan iman mereka harus dikokohkan kembali. Siapa tahu jika maksud Yesus yang berkali-kali memberitakan bahwa Ia akan bangkit dari kematianNya pada hari ketiga mungkin saja maksudnya kebangkitan roh? Atau kemungkinan lain, Yesus hanya mati suri dan Ia benar-benar bangkit badan dan roh. Namun untuk menghindar dari kejaran kaum Yahudi dan tentara kekaisaran Roma, Ia harus “menghilang” untuk waktu yang tak terbatas. Secara pribadi saya tidak ingin percaya pada kemungkinan yang terakhir. Menurut saya lebih masuk akal bila kebangkitan Yesus adalah kebangkitan roh. Hal ini sebenarnya dapat dibaca dalam Injil Lukas 24:13-53 bagaimana Yesus menampakkan diri adalah berbeda dengan kehadiranNya pra-penyaliban. Sesuatu yang lebih menyerupai Roh daripada Fisik. Dua orang murid yang sedang berjalan menuju Emaus, tidak mengenaliNya. [24:15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.
24:16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia].
Dan kesebelas murid yang sedang berkumpulpun tidak mengatakan bahwa Yesus menjumpai mereka dengan cara yang biasa dilakukanNya dahulu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka! [24:36 Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!"]
Murid-murid itu bahkan mengira telah melihat hantu. [[24:37 Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu].
Karena Ia pernah menggambarkan bahwa Ia harus mengalami transformasi sebelum Ia mencapai kemulian dalam perumpaan berikut: [Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah Yohanes 2:24.]
Apapun kebenarannya, satu hal yang saya tahu dengan pasti, saya tidak akan berhenti mencintai Yesus karena kasihNya yang demikian besar kepada dunia ini sehingga Ia rela mengorbankan nyawaNya sebagai pemulih dosa umat manusia. Keyakinan dan kepercayaan saya tidak akan terpengaruh jika pada akhirnya gereja harus mengakui fakta sejarah dan science bahwa ternyata osuarium di Talpiot memang milik Yesus.
Keyakinan saya memang tidak terikat kepada simbol apapun. Keyakinan saya akan kasih Allah dan Yesus Kristus adalah bagian dari rahmat spiritual yang dikaruniakan Allah sendiri kepada saya. Suatu hari saya pernah ditanyai oleh seorang kenalan baru: Mujizat apa yang saya pernah dapatkan selama 17 tahun?
Saya menjawab: Tak terhitung. Bagi saya setiap pagi dapat terbangun dengan sehat sudah merupakan mujizat. Keselamatan dan kesejahteraan adalah mujizat lain. Jadi mujizat apa lagi yang saya belum dapatkan?
Orang itu—mungkin tanpa maksud meremehkan—bersaksi bahwa dia baru dibaptis 2 tahun yang lalu dan dia telah menerima mujizat yang menurutnya sangat luar biasa yakni dia dapat berhenti merokok total tanpa terapi, tanpa will power.
Saya sungguh berharap gereja dan umat Kristiani di seluruh dunia akan memiliki kebesaran jiwa dan bersikap lebih terbuka terhadap penemuaan ilmiah dan bukannya mencoba menghalang-halanginya. Seharusnya gereja dan kita semua belajar dari kekeliruan yang pernah dilakukan terhadap Galileo Galilie dan Nicolaus Copernicus dengan teori heliocentrics mereka yang pernah dianggap bertentangan dengan Kitab Suci.
Bagaimana pun kita tidak boleh melupakan tujuan agama adalah menciptakan perdamaian, dan inti ajaran agama (manapun) adalah cinta kasih baik vertikal; manusia terhadap Tuhannya dan manusia terhadap manusia secara horisontal. Sepanjang sejarah kita sudah terlalu banyak menyaksikan justru agama dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menindas dan menguasai kelompok lainnya. Akankah kita terus-menerus membiarkan agama terus-menerus gagal mencapai tujuannya?
Semoga damai hadir di hari kita semua. Selamat Paskah.
Siapakah Judas Iskariot?
Renungan seorang awam
etiap tahun umat Kristiani di seluruh dunia merayakan Jumat Agung, yakni peristiwa sengsara dan penyaliban Yesus Kristus maka, selain nama Yesus sendiri, nama Judas Iskariot sering-sering disebut. Sebab menurut keempat kitab Injil, dialah yang menjual Yesus seharga 30 tail. Dengan setengah hati para penulis Injil melimpahkan seluruh kutuk dan cela terhadap murid Yesus yang satu ini. Namun setengahnya seakan-akan mereka mengatakan penyaliban Yesus adalah rencana Allah. Dengan keilahianNya Yesus sudah tahu isi hati kedua belas muridNya. Ia tahu Judas akan mengkhianatiNya dengan sebuah ciuman, Ia tahu Petrus akan menyangkal diriNya sebanyak tiga kali sebelum ayam berkokok. Pertanyaan yang tak pernah timbul dalam hati para penulis Injil adalah: Karena semua ini merupakan rencana Allah, mengapa diperlukan seorang yang kemudian dijadikan sebagai kambing hitam?
Beberapa tahun yang lalu perdebatan seru seputar mengapa peran Judas diperlukan kembali ramai ketika ada yang mengklaim Injil Judas Iskariot ditemukan. Dalam naskah kuno itu dikatakan Judas lah bukan Yohanes murid terkasih Yesus. Karena itu Judas yang mendapatkan peranan sangat penting dalam peristiwa penebusan umat manusia. Dan ketika Judas mencium gurunya, maka yang dibisikkannya adalah pernyataan selamat tinggal yang mengandung duka mendalam. Yesus lalu memberikan isyarat kesiapannya dengan berkata: “Hai, Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman.” Kalimat ini bukanlah pertanyaan atau menunjukkan bahwa Yesus merasa dikhianati, tetapi sebuah mahlumat.
Ada satu lagi versi yang terdengar agak manusiawi. Judas Iskariot diceritakan sebagai pengikut Barabas, seorang Yahudi yang menentang kekuasaan Kekaisaran Romawi di tanah Yehuda sejak berabab-abab yang sebelum kelahiran Yesus. Bangsa Yahudi telah lama menantikan datangnya seorang raja, seorang penyelamat mereka, seseorang yang memiliki kekuasaan, kekuatan, pengaruh yang dapat membangkitkan bangsa Yahudi. Ketika Yesus menunjukkan kualifikasi seorang pemimpin yang dapat membebaskan bangsa Yahudi dari kekuasaan Romawi, maka diam-diam orang-orang seperti Barabas menyusun kekuatan, mengumpulkan orang-orang muda untuk bergerak dan juga menyiapkan berbagai senjata tajam di bawah tanah. Saat yang dianggap tepat itu adalah ketika Yesus masuk ke Yerusalam sehari sebelum Paskah.
Judas Iskariot mulai memahami misi Yesus sebagai penyelamat bukanlah penyelamatan dalam arti sempit, merasa khawatir jika Ia menolak untuk memimpin perlawanan bangsa Yahudi segera memberitahukan kekhawatirannya kepada Barabas. Barabas lalu menyuruhnya menghubungi Imam Agung, Kayafas agar menangkap Yesus. Perkiraannya jika Yesus ditangkap, tentu para pengikutnya akan marah dan memberontak. Tetapi semua rencana Barabas dan pengikutnya gagal total ketika Yesus menyerahkan diri tanpa perlawanan dan ketika para pengikut Yesus yang mencari selamat sendiri meninggalkanNya. Judas pun merasa sangat menyesal sehingga mengakhiri hidupnya dengan menggangtung dirinya.
Kita tak akan pernah tahu rencana Tuhan, dan hal ini tidak perlu. Sebab iman merupakan sistem berpikir yang absolut. Tidak ada yang perlu diperdebatkan atau dijadikan studi perbandingan. Rasanya lebih baik malam Kamis Putih ini kita meneladani Yesus yang membasuh kaki murid-muridNya dan mengajarkan kepada kita untuk melayani sesama kita. Dan keesokan harinya, Jumat Agung ketika kita memandang Yesus tergantung di atas salib, peristiwa ini seharusnya mengingatkan kepada kita, mustahil wafat Yesus hanya sebuah omong kosong. Kalau ini hanya sebuah omong kosong, sebuah tindakan hukuman mati yang biasa-biasa saja, umat manusia tidak akan merayakannya setelah 2000 tahun.
Selamat merayakan Paskah, artinya Tuhan lewat di hati kita.