Hanya Seutas Benang
Cinta
Hanya
pada seutas benang cinta yang tipis,
kami
bergelantungan
Ketika
angin musim semi berembus sepoi,
kami
berayun riang
Ketika
angin di ujung musim semi berembus kencang
kami
terlontar jauh bagai kupu-kupu patah sayap
Kami
bercanda dengan air mata di atas pipi
Kami
tertawa dengan duka dalam dada
Tak ada
yang benar-benar memahami
Seutas
benang cinta yang tipis
Terikat
pada pinggang kami
Tak Ada Hal
Seperti Itu
Ketika
menyusuri pematang sawah bergandengan, memandang bulir-bulir padi menguning,
aku bertanya: Kalau panen tidak sebagus ini, akankah kau menetap bersamaku?
Tentu
saja, jawabmu sumringah, lalu menggenggam jemariku erat.
Aku
akan selalu datang, menyambut suka dan menepis duka bersamamu.
Aku
tersenyum, kupandang ke dalam bola matamu yang selalu menggelinding jauh
menghindar, ingin kutahu apa isi hatimu.
Dalam
hati aku tahu tak ada hal seperti itu.
Pernah
kuungkapkan risau seperti remaja hijau,
Kau
mencegahku, katamu tak baik berkata-kata yang tak aku inginkan,
Aku
tersenyum, setengah hati mengiyakan,
Aku
tahu tak ada hal seperti itu.
Musim
berlalu, burung pipit telah bersarang jauh, sawah mengerring, tanah meretak,
Tidak
ada lagi sisa-sisa butir gabah.
Kau
masih duduk di sampingku memandang langit hampa.
Senyummu
tak lagi meriah, jemarimu mulai malas membelai,
Kata-katamu
menghilang sayup terhempas angin kemarau,
Tak
ada lagi canda.
Suatu
senja yang gersang, kau bilang akan bepergian jauh,
Mungkin
kau akan jarang datang menjengukku,
Bukannya
hatimu telah berubah, tapi tuntutan tugas jua
Aku
mengangguk, apa yang kutakutkan telah terjadi, selalu begitu,
Burung
pipit bersarang jauh ketika padi tak lagi bernas.
Setelah
sekian tahun, sekian kali panen bersama,
Kini
aku tunduk bersama padi-padi yang kembali menguning,
Bukan
sekali dua aku harus hadapi kesunyian,
Seandainya
aku dapat menukar butir-butir gabah dengan cinta, tak kan kulakukan
Aku
tahu tak ada hal seperti itu,
Cinta
Seseorang
yang sibuk berkata, seandainya aku menguasai waktu, akan kugunakan untuk
mencintai hidup ini.
Seseorang
yang tidak beruang berkata, seandainya aku memiliki semua uang di dunia ini,
aku akan membelikanmu cinta.
Seorang
anak kecil berkata, seandainya aku sudah dewasa, aku akan mencintai ayah dan
bunda.
Seorang
ayah berkata, seandainya, kau tidak nakal, ayah akan mencintaimu.
Seorang
ibu berkata, sedandainya kau cantik jelita seperti diriku, aku akan
mencintaimu.
Cinta
ada di mana-mana, dalam udara, dalam air, dalam cahaya.
Cinta
tak pernah meringis di kala terabai, terlupakan,
Di
pojok hati yang tak pernah ditengok, cinta meringkuk menanti pembebasan.
Di
ujung lidah yang terlalu tajam dan lagi licin untuk berpijak,
Cinta
berjuang bertahan selama ia bisa, berharap dapat terbang bersama kata-kata
Cinta
ada kapan-kapan, tidak menunggu hingga hari ini….
Setiap
hari aku akan ucapkan cinta dan aku akan mencinta…
Aku
mencintaimu kekasihku, setiap hari kita adalah perayaan Valentine.
Keluh
Seandainya langit selalu biru, dan
matahari tidak pernah garang,
Seandainya angin selalu hijau dan
hujan tidak menderas,
Seandainya ombak selalu alun dan
karang tidak menerjal,
Seandainya aku bisa bercinta
denganmu malam ini dan besok pergi tanpa beban
Seandainya aku tahu apa yang aku
mau, dan apa yang kamu mau,
Seandainya aku tercipta untukmu, dan
kau tercipta untukku,
Seandainya aku tidak menuntut dan
kau tidak meminta
Seandainya cinta berwarna putih dan asmara berwarna jingga,
Seandainya mawar seindah mawar dan
semerbak melati,
Mengapa hidup tidak bisa dijalani
dengan berandai-andai?
Oh, gadis, tidak bisakah kita merenda
malam-malam dengan birahi
Bercinta hingga pagi dan berpisah
lagi di persimpangan jalan masing-masing
Jika kau biarkan aku menggenggam
jemarimu, aku ingin merengkuh hatimu,
Jika aku menatap ke dalam matamu,
kejujuran berkata aku mencintaimu,
Ingin aku menyerah dan pasrah dalam
kepungan cinta,
Ingin aku sejenak melupakan
kotak-kotak dan garis-garis rintang,
Keluh, cinta hanya hangat sesaat,
Keluh, aku tidak tahu apa yang aku
mau, apalagi apa yang kau mau,
Keluh, aku diterpa ombak mengganas,
terempas di atas karang tajam,
Keluh, aku terpuruk di sudut kamarku
berteman gulita malam.
Jika esok hari menjelang, kulipat
kelambu kesunyian, dan menyimpan harap,
Mencoba menyongsong hari dengan
lapang dada,
Tapi aku tidak sanggup menghapus
bayanganmu sejenak, semakin jauh aku pergi, semakin dekat kenangan.
Mengapa cinta datang merajam jiwaku?
Gita Untuk Belahan Jiwa
Cinta bersemi bagaikan pertama,
Mengharukan hati, menggetarkan jiwa,
Hanya bayanganmu mengisi
mimpi-mimpiku
Mengusir sepi yang telah lama enggan
menepi
Ketika pertama mata bertaut, kulihat
harap berkilauan
Bagai sinar mentari di awal musim
semi
Ketika jemari berjalin kurasakan asmara bergelora
Rasa rindu meremas dada
Kutulis lagu cinta yang tak
terlantunkan
Hatiku bernyanyi lebih indah, gita
cinta untuk belahan jiwa
Kutulis syair yang tak terlafalkan,
jiwa menyatu dalam satu kata,
Dua belahan jiwa yang lama terpisah,
kini bersatu sudah.
Diujung hari
Diujung hari terik awal senja gerah,
Kau datang menyemai gerimis,
Kau sirami bunga-bunga yang hampir
merana,
Kau lukis langit-langit jiwaku
dengan sinar pelangi
Di awal hari kau senandungkan puisi
Penuh harap kau tuntun aku berdiri
Menghadap hari yang terentang
panjang tak pasti
Meski jalan tak tampak berujung, kau
ajak menapaki,
Cinta terkadang tak berbibir tapi
kau kecup tak peduli,
Janji terkadang tak terpenuhi tapi
kau rangkai dengan melati
Hari-hari kau bilang akan bersama
hingga desah nafas terakhir,
Kuintip lewat celah matamu mencari
jawab
Akankah cinta masih berkilap ketika
mimpi tiada lagi berkedip?
Jawabnya sunyi kepastiannya sepi aku
tak lagi peduli
Kurengkuh erat kau dalam pelukanku
seakan dapat bersatu
Lupa kini biar esok menanti.