KaryakuResensimuCerita SeruProfilBuku TamuKontak





Kumpulan Puisi
08 April 2009 09:38

» beri tahu teman



Hanya Seutas Benang Cinta

 

Hanya pada seutas benang cinta yang tipis,

kami bergelantungan

Ketika angin musim semi berembus sepoi,

kami berayun riang

Ketika angin di ujung musim semi berembus kencang

kami terlontar jauh bagai kupu-kupu patah sayap

Kami bercanda dengan air mata di atas pipi

Kami tertawa dengan duka dalam dada

Tak ada yang benar-benar memahami

Seutas benang cinta yang tipis

Terikat pada pinggang kami





Tak Ada Hal Seperti Itu

 

Ketika menyusuri pematang sawah bergandengan,
memandang bulir-bulir padi menguning, aku bertanya:
Kalau panen tidak sebagus ini, akankah kau menetap bersamaku?

Tentu saja, jawabmu sumringah, lalu menggenggam jemariku erat.

Aku akan selalu datang, menyambut suka dan menepis duka bersamamu.

Aku tersenyum, kupandang ke dalam bola matamu  yang selalu menggelinding jauh menghindar,
ingin kutahu apa isi hatimu.

Dalam hati aku tahu tak ada hal seperti itu.

 

Pernah kuungkapkan risau seperti remaja hijau,

Kau mencegahku, katamu tak baik berkata-kata yang tak aku inginkan,

Aku tersenyum, setengah hati mengiyakan,

Aku tahu tak ada hal seperti itu.

 

Musim berlalu, burung pipit telah bersarang jauh, sawah mengerring, tanah meretak,

Tidak ada lagi sisa-sisa butir gabah.

Kau masih duduk di sampingku memandang langit hampa.

Senyummu tak lagi meriah, jemarimu mulai malas membelai,

Kata-katamu menghilang sayup terhempas angin kemarau,

Tak ada lagi canda.

 

Suatu senja yang gersang, kau bilang akan bepergian jauh,

Mungkin kau akan jarang datang menjengukku,

Bukannya hatimu telah berubah, tapi tuntutan tugas jua

Aku mengangguk, apa yang kutakutkan telah terjadi, selalu begitu,

Burung pipit bersarang jauh ketika padi tak lagi bernas.

 

Setelah sekian tahun, sekian kali panen bersama,

Kini aku tunduk bersama padi-padi yang kembali menguning,

Bukan sekali dua aku harus hadapi kesunyian,

Seandainya aku dapat menukar butir-butir gabah dengan cinta, tak kan kulakukan

Aku tahu tak ada hal seperti itu,



Cinta

 

Seseorang yang sibuk berkata, seandainya aku menguasai waktu, akan kugunakan untuk mencintai hidup ini.

Seseorang yang tidak beruang berkata, seandainya aku memiliki semua uang di dunia ini, aku akan membelikanmu cinta.

Seorang anak kecil berkata, seandainya aku sudah dewasa, aku akan mencintai ayah dan bunda.

Seorang ayah berkata, seandainya, kau tidak nakal, ayah akan mencintaimu.

Seorang ibu berkata, sedandainya kau cantik jelita seperti diriku, aku akan mencintaimu.

 

Cinta ada di mana-mana, dalam udara, dalam air, dalam cahaya.

Cinta tak pernah meringis di kala terabai, terlupakan,

Di pojok hati yang tak pernah ditengok, cinta meringkuk menanti pembebasan.

Di ujung lidah yang terlalu tajam dan lagi licin untuk berpijak,

Cinta berjuang bertahan selama ia bisa, berharap dapat terbang bersama kata-kata

Cinta ada kapan-kapan, tidak menunggu hingga hari ini….

 

Setiap hari aku akan ucapkan cinta dan aku akan mencinta…

Aku mencintaimu kekasihku, setiap hari kita adalah perayaan Valentine.


Keluh

 

Seandainya langit selalu biru, dan matahari tidak pernah garang,

Seandainya angin selalu hijau dan hujan tidak menderas,

Seandainya ombak selalu alun dan karang tidak menerjal,

Seandainya aku bisa bercinta denganmu malam ini dan besok pergi tanpa beban

 

Seandainya aku tahu apa yang aku mau, dan apa yang kamu mau,

Seandainya aku tercipta untukmu, dan kau tercipta untukku,

Seandainya aku tidak menuntut dan kau tidak meminta

Seandainya cinta berwarna putih dan asmara berwarna jingga,

 

Seandainya mawar seindah mawar dan semerbak melati,

Mengapa hidup tidak bisa dijalani dengan berandai-andai?

Oh, gadis, tidak bisakah kita merenda malam-malam dengan birahi

Bercinta hingga pagi dan berpisah lagi di persimpangan jalan masing-masing

 

Jika kau biarkan aku menggenggam jemarimu, aku ingin merengkuh hatimu,

Jika aku menatap ke dalam matamu, kejujuran berkata aku mencintaimu,

Ingin aku menyerah dan pasrah dalam kepungan cinta,

Ingin aku sejenak melupakan kotak-kotak dan garis-garis rintang,

 

Keluh, cinta hanya hangat sesaat,

Keluh, aku tidak tahu apa yang aku mau, apalagi apa yang kau mau,

Keluh, aku diterpa ombak mengganas, terempas di atas karang tajam,

Keluh, aku terpuruk di sudut kamarku berteman gulita malam.

 

Jika esok hari menjelang, kulipat kelambu kesunyian, dan menyimpan harap,

Mencoba menyongsong hari dengan lapang dada,

Tapi aku tidak sanggup menghapus bayanganmu sejenak, semakin jauh aku pergi, semakin dekat kenangan.

Mengapa cinta datang merajam jiwaku?





Gita Untuk Belahan Jiwa

 

Cinta bersemi bagaikan pertama,

Mengharukan hati, menggetarkan jiwa,

Hanya bayanganmu mengisi mimpi-mimpiku

Mengusir sepi yang telah lama enggan menepi

 

Ketika pertama mata bertaut, kulihat harap berkilauan

Bagai sinar mentari di awal musim semi

Ketika jemari berjalin kurasakan asmara bergelora

Rasa rindu meremas dada

 

Kutulis lagu cinta yang tak terlantunkan

Hatiku bernyanyi lebih indah, gita cinta untuk belahan jiwa

Kutulis syair yang tak terlafalkan, jiwa menyatu dalam satu kata,

Dua belahan jiwa yang lama terpisah, kini bersatu sudah.



Diujung hari

 

Diujung hari terik awal senja gerah,

Kau datang menyemai gerimis,

Kau sirami bunga-bunga yang hampir merana,

Kau lukis langit-langit jiwaku dengan sinar pelangi

 

Di awal hari kau senandungkan puisi

Penuh harap kau tuntun aku berdiri

Menghadap hari yang terentang panjang tak pasti

Meski jalan tak tampak berujung, kau ajak menapaki,

 

Cinta terkadang tak berbibir tapi kau kecup tak peduli,

Janji terkadang tak terpenuhi tapi kau rangkai dengan melati

Hari-hari kau bilang akan bersama hingga desah nafas terakhir,

Kuintip lewat celah matamu mencari jawab

 

Akankah cinta masih berkilap ketika mimpi tiada lagi berkedip?

Jawabnya sunyi kepastiannya sepi aku tak lagi peduli

Kurengkuh erat kau dalam pelukanku seakan dapat bersatu

Lupa kini biar esok menanti.