 |
| |
| |
 |
|
|
      |
| |

|
|
Kumpulan Puisi II
24 April 2009 11:11
» beri tahu teman
Mantan PendetaTadinya dia seorang pendeta, mulut tak henti memantra, dua belas bocah pengiring dan tiga pendeta muda menjunjung tampa persembahan menuju kuil di puncak bukit ular. Umat hormat menyambut perwakilan dewata, memohon berkat lewat sepasang tangannya yang berkuku merah dan gumam doa tak pernah jelas basa. Sekarang ia duduk terpekur di atas batu karang, menatap kosong, pandangannya tergantung di atas laut lepas. Tak ada lagi umat menanti berkat dan doa, tak ada lagi bocah-bocah pengiring siap memegang jubah kuningnya. Tak ada asap dupa menyesakkan paru-parunya. Tak ada lagi anjing memakan tulang yang dibuangnya. Tak ada lagi merpati mematuk-matuk butiran beras yang disebarkannya di sekitar altar pura.Ia sendiri bercerita kepada sepi yang mendengarkan tanpa reaksi.Atau ia mendengar canda sesama angin, siapa peduli? Ia tak pernah lagi mendengar kabar umat yang merantau di seberang lautan. Ia hanya mantan pendeta yang telah menua, bahkan sebagian mantan umat mengatakan bahwa ia sesat. Duh Gusti Dewa!! Ia lalu mengembara ke negeri asing. Di depan suatu pura ia berhenti, mengira ia pengemis pendeta renta memberinya sedekah. Mengela nafas ia menolak, ia menerangkan kalau ia dulunya pendeta, tetapi di tanah asing ia tak dikenal orangSurabaya, 15 April 2009
» beri tahu teman
|
|
Depan | Karyaku
| Resensimu | Cerita
Seru | Profil | Buku
Tamu | Kontak
|
Copyright
© 2004-2005 Ernest J. K. Wen
Dilarang mengutip atau menyalin sebagian atau seluruh isi website ini dalam
bentuk atau cara apa pun tanpa izin dari penulis.
Anda dapat menghubungi penulis di ernest@ejkok.com.
Anda bebas untuk melakukan link ke website ini.
Masalah berkenaan dengan website ini, silakan hubungi Webmaster.
This website is powered by harianto.com
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
 |