KaryakuResensimuCerita SeruProfilBuku TamuKontak





Bukan Putri Angsa
» kutipan buku | di balik buku | baca komentar | beri komentar | beri tahu teman

 

Testimoni dari pembaca

Novel yang bagus menurut saya adalah yang mampu memberikan hiburan sekaligus masukan positif buat pembacanya. Nah...! “Bukan Putri Angsa” adalah satu novel yang bisa mewakili kebutuhan saya akan sebuah novel yang bermutu...! (Yolinda, penyiar radio, Malang).

Saya sangat selektif memilih bacaan terutama fiksi. Beberapa waktu yang lalu saya membaca “Davinci Code” nya Don Brown yang menurut saya adalah novel bagus dan menarik. Lalu seorang teman menyodorkan saya “Bukan Putri Angsa” nya Ernest J.K. Wen karena dia ingin tahu pendapat saya tentang novel ini. Iseng-iseng saja saya baca...eh, keterusan hingga halaman terakhir. Saya tidak bisa berhenti. Penasaran dan terhanyut. Novel bagus! (Nur Agustinus, HR Profesional, Dosen, Surabaya).

Tadinya saya ingin tidur lebih awal dan berharap “Bukan Putri Angsa” bisa membuat rasa kantuk datang lebih cepat, tahunya...saya bergadang sampai jam 3 pagi! Saya tidak bisa berhenti membaca hingga halaman terakhir! Bagus banget! Nggak nyangka Ernest begitu canggih menyusun plot dan merangkai kata-kata. Salut, Er! (Helen Sopian, Pengusaha, Jakarta).

Aku baru aja membaca novel “Bukan Putri Angsa”. KEREN! Jarang lho ada yang ambil tema kayak gitu. Aku suka sekali dengan optimisme Ernest!

Lisa, Mahasiswa, Jakarta.



Kutipan buku

Memanfaatkan angin reformasi di negeri ini, dan bekerja sama dengan tokoh-tokoh muda idealis yang tergabung di dalam tubuh BPK, KPK, Timtas Tipikor Naomi memang berhasil menjatuhkan Yap Fuk-shen seorang tauke yang kaya-raya dan selama lebih dari 20 tahun berafiliasi dengan oknum-oknum koruptor. Namun dia tetap Naomi, seekor burung pipit yang tak bersarang. Dia bukan Putri Angsa. 



Di balik buku

Naomi menahan nafas menunggu suara laki-laki itu menyampaikan ancamannya.
  
‘Jika sampai anak itu tahu aku bapaknya atau sampai ada orang lain selain kau tahu rahasia ini, aku tidak akan sungkan-sungkan bertindak!’
   ‘Setega itukah hatimu, Fuk-ko? Tak usah kau memandang aku, tapi anak ini, darah dagingmu sendiri?’
    ‘Mengapa aku tidak tega? Aku punya kepentingan yang harus aku pertahankan, aku takan segan-segan mengorbankan darah-daging yang tak pernah kuharapkan itu!’ 
        
Naomi menggigil semakin keras, dan air matanya juga semakin deras mengalir keluar dari matanya. Dia mendengar suara langkah kaki menjauh dari depan pintu kamarnya. Lalu suasana di luar sana menjelma sunyi-senyap bagaikan di dalam kubur. 
        
Ketika mamanya kembali ke kamar perawatannya, Naomi berpura-pura tidur. Dan sejak itu dia tidak pernah lagi bertanya ke mana perginya Hendrik Gho yang selama ini dia kenal sebagainya ayahnya.



Komentar
»
beri komentar

Yulie mardiatmo di Jakarta pada 01 Oktober 2009 08:39 memberikan komentar:

aku yg tak bisa menggapai sesuatu yg aku impikan,.Aq terdiam,..aq tak sanggup mengejarny karena sesuatu yg tak bisa aq raih dlm waktu singkt...



Kawai di Beijing pada 29 Mei 2006 10:53 memberikan komentar:

Few month ago, I had met with Ms. Ernest J.K. Wen. She speak Mandarin and because I had visited Indonesia (actually Bali) once, I was glady talk to her. She had told me about her other activity such as novel writing. She told me about the website and invited me to visit.
I do not understand Bahasa Indonesia, but she has been very kind to explained to me about her book, "Bukan Putri Angsa". I think in English is She is not Swan Pricess something like that. The background of the book, is Indonesia Chinese, which is very interesting.
I am now working on with her to find a proper publishing company in Beijing. You know what? It's going to be a Chinese translation some day.
Keep up good work, Miss Wen.


ODY di Malang pada 22 Februari 2006 17:23 memberikan komentar:

Novel fiksi Bukan Putri Angsa tulisan Ernest JK Wen, seorang etnis China, dapat dipahami sebagai penuturan dari dalam diri seorang China tentang problem sosial mereka di tengah warga pribumi.

Karya itu menjadi istimewa karena Ernest (40), perempuan beretnis China yang juga merupakan pekerja kantoran di Surabaya, secara khusus mengangkat problematika dalam komunitas China di Pontianak.

Kepada hadirin yang datang dalam peluncuran bukunya di sebuah mal di Malang, Minggu (19/2), Ernest menjelaskan, ia tidakberpretensi menulis karya sastra. Oleh karenanya, Ernest mengaku merasa lebih nyaman jika karyanya yang merupakan karya kedua itu disebut sebagai novel pop.

Meski demikian, karya Ernest tetap membawa sejumlah pesan, yakni tentang ungkapan perasaan dari penutur asli tentang problem identitas etnis yang tetap dianggap asing di negeri kelahirannya sendiri, Indonesia.

"Saya tidak menulis pernyataan klise soal relasi etnis China dan pribumi, misalnya tentang naturalisasi, melainkan pengungkapan persepsi orang China tentang pribumi dan hubungan dengan pribumi melalui penuturan sebagai orang China' katanya.

Pontianak dan Kalimantan Barat menjadi setting sosial tokohnya. Bisa jadi, karena Ernest berasal dari sana, meski di Kalimantan Barat Ernest berdiam hanya sampai tamat SMU. Selanjutnya ia berdomisili di Jawa. Hal ini sekaligus menjadikan novel Ernest menjadi salah satu dari sedikit karya fiksi yang di-tulis oleh perempuan asal Pontianak.

Novel Bukan Putri Angsa me nuturkan hubungan bermasalah antara tokoh perempuan karier Naomi dan keluarganya, lingkungan kerjanya, serta masa lalunya sebagai anak yang tidak dikehendaki. Ia dilahirkan dari hubungan ibunya dengan ayah yang kini menjadi seorang pengusaha kaya.

"Orang China kaya sesungguhnya punya banyak masalah dengan hidupnya. Mereka tidak selalu tampak senang dengan kehidupan serba berke-cukupan secara material. Mereka punya kegelisahan. Mereka punya problem hubungan antargenerasi. Itu semua patut menjadi pengetahuan umum," katanya.

Namun, Ernest juga menekankan, novelnya semata-mata bertutur tentang hubungan sosial dan pengembangan karakter tokohnya. Tidak ada studi etnosentris dalam novelnya.

Bagi Ernest, karyanya merupakan bacaan ringan untuk sebuah topik dan kisah yang cukup serius. la lebih senang menyebut sebagai novel ruang tunggu. Suatu istilah untuk jenis novel yang bisa dibaca di ruang tunggu bandara, tempat praktik dokter, atau di tengah perjalanan. (ODY)




buddy di NY pada 08 Januari 2006 05:10 memberikan komentar:

ernes pa kbar ??.. aku degar tentang novel ini dari tmn di jkrt, tapi blm baca.. krn buat ongkos krmnya terlalu mahal.jadi aku hrs tunggu ampe ku blik jkrta.. tmn ku blng bagus bget ceritanya buat hati seer-seeran.

bay the way aku cuma mau ucapin good luck buat anda. semoga temen2 L yg lain bisa juga memnujukan kepada masyarakat indonesia bahwa Lesbian itu bukan sesuatu YANG DI TAKUTKAN, tepeio sebaliknya sesuatu yang harus DI HARGAI.

buat ernes tambah maju yeh.. dan temen2 tambah kompak.

Peace.


Baca juga:
  » Janji Sepasang Kekasih dari Dinasti Ming
  » Bagaimana Menerbitkan Sebuah Buku
  » Sepasang Remaja Lesbian di Persimpangan Jalan



Depan | Karyaku | Resensimu | Cerita Seru | Profil | Buku Tamu | Kontak

Copyright © 2004-2005 Ernest J. K. Wen
Dilarang mengutip atau menyalin sebagian atau seluruh isi website ini dalam bentuk atau cara apa pun tanpa izin dari penulis.
Anda dapat menghubungi penulis di ernest@ejkok.com. Anda bebas untuk melakukan link ke website ini.
Masalah berkenaan dengan website ini, silakan hubungi Webmaster.
This website is powered by harianto.com