 |
| |
| |
 |
|
|
      |
| |

|
Janji Sepasang Kekasih dari Dinasti Ming
Detailnya dapat dibaca di sini.
» beri komentar
Ernest JK Wen di Surabaya pada 28 Juli 2008 23:25 memberikan komentar:
Dear Teman-teman pengunjung dan pembaca karya-karyaku, aku mendapatkan email dari seseorang yang menamakan dirinya Ocean Away. Aku coba balas, tapi ga kekirim-kirim. Karena pertanyaan2nya bagus-bagus dan juga minta dijawab dengan jujur, maka aku coba masukkan di kolom ini.
***************************************************
Salam sejahtera,
Saya pembaca novel ‘janji sepasang kekasih dari dinasti ming’. Cukup bagus. Sayangnya, kurang digali aspek historisnya. Mengapa?
Oya, ada beberapa hal juga yang ingin saya tanyakan:
kenapa ceritanya lebih menonjolkan hubungan lesbian para tokohnya?
apakah novel ini dijadikan semacam pembenaran dan pembelaan bagi kaum lesbian?
apakah penerbit ini hanya menerbitkan buku yang bertema hubungan sesama jenis?
apakah novel ketiga ini adalah sebuah kisah fakta?
apakah si penulis adalah seorang lesbi, sebab segala emosi dan perasaan dalam novel ini begitu 'asli'?
Terima kasih sebelum dan sesudahnya untuk kejujuran menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.
Terus berkarya!
****************************************************dan ini jawabanku untuk "Ocean Away" dan juga buat pembaca lain yang barangkali punya pertanyaan yang sama.
***************************************************
Salam Sejahtera bagi Anda,
Terima kasih sudah membaca novel saya. Mengapa aspek sejarahnya tidak digali lebih dalam? Ada 2 alasan; pertama novel ini bukan romance sejarah yang paling tidak harus mengandung fakta 70% dan 30% fiksi. Kedua, latar belakang sejarahnya masih akan dituliskan pada buku kedua dan ketiganya (novel ini adalah trilogi).
Pada buku kedua dan ketiga, rasanya tidak ada lagi kisah lesbian. Wang yue dan Ying-ying adalah sepasang suami istri heteroseksual dan kisah cinta mereka dilatarbelakangi sejarah dinasti Ming akan menjadi tema cerita. Pada buku ketiga, akan lebih banyak dihiasi kisah pelayaran Wang-yue ke Asia Tenggara dan bagaimana ia mengenang Ying-ying selama hidupnya.
Mengapa lebih menonjolkan hubungan lesbian? Agak sulit dijawab, kalau Anda pernah menulis sebuah novel, Anda mungkin akan dapat menjawab sendiri pertanyaan ini.
Apakah novel ini dijadikan pembenaran kaum lesbian? Hmmmm....apakah orang dengan orientasi seksual berbeda itu harus dibenarkan? Bagaimana membenarkannya saya tidak tahu, karena saya pun tidak tahu bagaimana menyalahkan orang lain.
Penerbit ini menerbitkan buku-buku bermutu saja, tidak harus melulu cerita lesbian.
Apakah sebuah fakta? Sudah saya katakan di mana-mana, novel ini sepenuhnya fiksi. Jika Anda meragukannya, berarti saya telah berhasil menulis sebuah novel yang bagus sehingga terkesan begitu nyata, bukan?
Apakah saya seorang berorientasi seksual lesbian? Pernahkah Anda bertanya apakah J.K. Rowling itu seorang pesihir? By the way, orang-orang sering mengira Sidney Sheldon almarhum seorang wanita cantik yang cerdas, padahal dia seorang kakek-kakek karena buku-bukunya seperti: Rage of Angle, Blood Line, Are you Afraid of Darkness dll selalu menampilkan tokoh perempuan yang cantik, cerdas, pintar, dan sensual.
Dan saya sedang membaca Gadis Pantainya Pramudya Ananta Toer, dan saya sungguh tersentuh dengan nasib gadis nelayan yang dikawinkan kepada seorang pembesar yang feodal itu. Apakah Pramodya Ananta Toer seorang gadis pantai? Mempersingkat jawaban panjang: seorang penulis harus menghayati (menghidupkan dan sekaligus hidup di dalam) pengalaman hidup tokoh-tokohnya, dengan demikian ia dapat disebut "author" yang berasal dari kata "authority" = yang berkuasa memberi jiwa kepada ciptaannya.
Semoga jawaban ini memuaskan, kalau belum, silakan bertanya kembali.
Bisa sekalian kenalan, siapa nih nama Anda, Ocean Away?
Salam cinta,
Ernest JK Wen
JoGjalicious di Jogja pada 21 Juli 2008 23:21 memberikan komentar:
Dear Ernest,
Aku baru saja selesai membaca buku Janji Sepasang Kekasih dari Dinasti Ming, bravo. I love it.
Thank you sudah membuat cerita berfokuskan cinta ttg lesbian dengan manis, tidak vulgar, dan patut dijadikan mimpi nanti malam. 
andai pun aku akan bereinkarnasi 7 abad mendatang, aku akan dengan senang hati menjadi wanita yang mencintai wanita pula.

tabik.
» komentar yang lain
|
|
Bagaimana Menerbitkan Sebuah Buku
Detailnya dapat dibaca di sini.
» beri komentar
|
|
Bukan Putri Angsa
Detailnya dapat dibaca di sini.
» beri komentar
Kawai di Beijing pada 29 Mei 2006 10:53 memberikan komentar:
Few month ago, I had met with Ms. Ernest J.K. Wen. She speak Mandarin and because I had visited Indonesia (actually Bali) once, I was glady talk to her. She had told me about her other activity such as novel writing. She told me about the website and invited me to visit.
I do not understand Bahasa Indonesia, but she has been very kind to explained to me about her book, "Bukan Putri Angsa". I think in English is She is not Swan Pricess something like that. The background of the book, is Indonesia Chinese, which is very interesting.
I am now working on with her to find a proper publishing company in Beijing. You know what? It's going to be a Chinese translation some day.
Keep up good work, Miss Wen.
ODY di Malang pada 22 Februari 2006 17:23 memberikan komentar:
Novel fiksi Bukan Putri Angsa tulisan Ernest JK Wen, seorang etnis China, dapat dipahami sebagai penuturan dari dalam diri seorang China tentang problem sosial mereka di tengah warga pribumi.
Karya itu menjadi istimewa karena Ernest (40), perempuan beretnis China yang juga merupakan pekerja kantoran di Surabaya, secara khusus mengangkat problematika dalam komunitas China di Pontianak.
Kepada hadirin yang datang dalam peluncuran bukunya di sebuah mal di Malang, Minggu (19/2), Ernest menjelaskan, ia tidakberpretensi menulis karya sastra. Oleh karenanya, Ernest mengaku merasa lebih nyaman jika karyanya yang merupakan karya kedua itu disebut sebagai novel pop.
Meski demikian, karya Ernest tetap membawa sejumlah pesan, yakni tentang ungkapan perasaan dari penutur asli tentang problem identitas etnis yang tetap dianggap asing di negeri kelahirannya sendiri, Indonesia.
"Saya tidak menulis pernyataan klise soal relasi etnis China dan pribumi, misalnya tentang naturalisasi, melainkan pengungkapan persepsi orang China tentang pribumi dan hubungan dengan pribumi melalui penuturan sebagai orang China' katanya.
Pontianak dan Kalimantan Barat menjadi setting sosial tokohnya. Bisa jadi, karena Ernest berasal dari sana, meski di Kalimantan Barat Ernest berdiam hanya sampai tamat SMU. Selanjutnya ia berdomisili di Jawa. Hal ini sekaligus menjadikan novel Ernest menjadi salah satu dari sedikit karya fiksi yang di-tulis oleh perempuan asal Pontianak.
Novel Bukan Putri Angsa me nuturkan hubungan bermasalah antara tokoh perempuan karier Naomi dan keluarganya, lingkungan kerjanya, serta masa lalunya sebagai anak yang tidak dikehendaki. Ia dilahirkan dari hubungan ibunya dengan ayah yang kini menjadi seorang pengusaha kaya.
"Orang China kaya sesungguhnya punya banyak masalah dengan hidupnya. Mereka tidak selalu tampak senang dengan kehidupan serba berke-cukupan secara material. Mereka punya kegelisahan. Mereka punya problem hubungan antargenerasi. Itu semua patut menjadi pengetahuan umum," katanya.
Namun, Ernest juga menekankan, novelnya semata-mata bertutur tentang hubungan sosial dan pengembangan karakter tokohnya. Tidak ada studi etnosentris dalam novelnya.
Bagi Ernest, karyanya merupakan bacaan ringan untuk sebuah topik dan kisah yang cukup serius. la lebih senang menyebut sebagai novel ruang tunggu. Suatu istilah untuk jenis novel yang bisa dibaca di ruang tunggu bandara, tempat praktik dokter, atau di tengah perjalanan. (ODY)
» komentar yang lain
|
Page : 1 2 Next »
|
Depan | Karyaku
| Resensimu | Cerita
Seru | Profil | Buku
Tamu | Kontak
|
Copyright
© 2004-2005 Ernest J. K. Wen
Dilarang mengutip atau menyalin sebagian atau seluruh isi website ini dalam
bentuk atau cara apa pun tanpa izin dari penulis.
Anda dapat menghubungi penulis di ernest@ejkok.com.
Anda bebas untuk melakukan link ke website ini.
Masalah berkenaan dengan website ini, silakan hubungi Webmaster.
This website is powered by harianto.com
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
 |